Tel.: (021) 57940919E-mail: info@jlaindonesia.co.id
+

PILIH MANA? RAPID ANTIBODY TEST ATAU RAPID ANTIGEN

Di masa pandemi COVID-19 seperti ini, wajar jika kita khawatir terkena virus corona, apalagi bagi kelompok rentan yang berisiko mengalami dampak berat dari penyakit ini. Agar kita dan keluarga bisa lebih tenang dan terjaga dari ancaman virus corona. Maka dari itu untuk melakukan pencegahan penularan, penting juga untuk melakukan tes agar kita bisa mendeteksi ada atau tidaknya virus corona di dalam tubuh kita. Selain itu, beberapa daerah di Indonesia sudah melonggarkan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi fase 1 dan harus menerapkan protokol kesehatan “New Normal”. Banyak dari masyarakat yang ingin kembali beraktifitas kerja, melakukan penerbangan, dan aktifitas lainnya yang membutuhkan keterangan non reaktif Covid-19. Saat ini, ada dua metode yang bisa dilakukan untuk mendeteksi virus corona, yaitu rapid test atau rapid antibody dan PCR (Polymerase Chain Reactionswab test atau rapid antigen. Meski sama-sama digunakan untuk mendeteksi virus corona, kedua tes tersebut memiliki beberapa perbedaan. Apa saja? Simak perbedaannya berikut ini :

  1. Jenis sampel yang diambil

Pemeriksaan rapid antibody yang ada di Indonesia, dilakukan menggunakan sampel darah. Sedangkan pemeriksaan rapid antigen menggunakan sampel lendir yang diambil dari dalam hidung maupun tenggorokan.

2. Waktu Yang Dibutuhkan

Rapid antibody hanya membutuhkan waktu 10-15 menit hingga hasil keluar. Sementara itu, pemeriksaan menggunakan rapid antigen kurang lebih sama 10-15 menit. Hasil pemeriksaan rapid antibody maupun rapid antigen juga bisa keluar lebih lama dari itu, apabila kapasitas laboratorium yang digunakan untuk memeriksa sampel, sudah penuh. Sehingga, sampel yang masuk harus antre lama untuk bisa diperiksa.

3. Cara Kerja

Rapid antibody memeriksa virus menggunakan antibodi IgG dan IgM yang ada di dalam darah. Antibodi itu terbentuk di tubuh saat kita mengalami infeksi virus. Jadi, jika di tubuh terjadi infeksi virus, maka jumlah IgG dan IgM di tubuh akan bertambah. Hasil rapid antibody dapat memperlihatkan adanya IgG atau IgM dalam darah. Jika ada, maka hasil rapid antibody dinyatakan positif ada infeksi. Namun, hasil tersebut bukanlah diagnosis yang menggambarkan infeksi Covid-19.

Maka, orang dengan hasil rapid antibody positif akan dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, yaitu pemeriksaan rapid antigen tenggorokan atau hidung. Pemeriksaan ini dinilai lebih akurat, sebab virus corona akan menempel di bagian dalam hidung atau tenggorokan saat masuk ke tubuh. Sampel lendir yang diambil dengan metode swab nantinya akan diperiksa menggunakan metode rapid antigen. Hasil akhir dari pemeriksaan ini, nantinya akan benar-benar memperlihatkan keberadaan virus SARS-COV2 yang menyebabkan Covid-19 di tubuh seseorang.

4. Sensitifitas & Pengulangan

Untuk rapid antibody sensitifitas mas inkubasinya yaitu kurang lebih 10 hari dan saat hasil non reaktif disarankan untuk pengulangan kedua kali yaitu 7-10 berikutnya dari tes awal. Kemungkinan belum muncul antibody pada saat pengetesan di masa awal inkubasi dan disarankan isolasi mandiri. Lalu untuk rapid antigen sensitifitasnya pada masa inkubasi selama 5 hari. Tidak disarankan untuk diulang dikarenakan antigen muncul pada awal penyakit. Rapid antigen ini dipercaya lebih akurat dibandingkan dengan rapid antibody test.

Sumber :

Kementerian Kesehatan RI

www.kompas.com

www.katadata.com

www.emc.id

www.alomedika.com